PCINU Tunisia Peringati Hari Santri Nasional 2026 dengan Baca Istighosah Kubro
Penulis: Hasna May Ziadah / Editor: Muttaqin Hidayahtullah
PCINU Tunisia – Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar peringatan Hari Santri Nasional 2026 dalam suasana religius dan penuh kekhidmatan. Mengusung semangat pengabdian santri kepada bangsa, peringatan tahun ini menghadirkan perspektif yang berbeda dengan menyoroti peran strategis santri di tengah dinamika geopolitik dunia.
Mengacu pada tema nasional Hari Santri yang ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, PCINU Tunisia mengangkat tema khusus, “Peran Strategis Santri di Era Pergolakan Geopolitik”. Pemilihan tema tersebut didasarkan pada pentingnya keterlibatan santri dalam merespons berbagai persoalan kontemporer, mulai dari isu sosial dan politik hingga persoalan kemanusiaan, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan Hizib Bahr yang dipimpin oleh Syekh Sholahuddin al-Mistawi, selaku Mustasyar PCINU Tunisia. Pembacaan amalan tersebut menjadi pembuka kegiatan sekaligus momentum untuk memperkuat dimensi spiritual dalam peringatan Hari Santri.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara, Mutiah Ma’rufah, yang memperkenalkan rangkaian kegiatan pada malam tersebut. Setelah itu, agenda berlanjut pada sesi sambutan yang disampaikan oleh sejumlah perwakilan PCINU Tunisia.
Ketua Tanfidziyah PCINU Tunisia, Yusril Muna, M.A., menjadi pembicara pertama dalam sesi sambutan. Selanjutnya, Ustadz Ardhi Pramana, Lc., M.A., menyampaikan pandangannya mengenai makna mendalam seorang santri serta hakikat perjalanan seorang penuntut ilmu.

Dalam pemaparannya, Ustadz Ardhi menjelaskan bahwa santri bukan sekadar identitas yang melekat pada seseorang, melainkan gambaran seorang hamba yang senantiasa menempuh perjalanan menuju kebenaran. Santri dapat dimaknai sebagai Muridullah, yakni murid yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menjadi santri tidak cukup hanya dengan menyandang status, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalani proses suluk, yaitu perjalanan spiritual untuk mendekat kepada-Nya.
Ia juga menekankan pentingnya Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT. Kecintaan dan kedekatan kepada Rasulullah menjadi salah satu jalan untuk membangun hubungan spiritual yang lebih mendalam dengan Allah.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ardhi turut mengutip salah satu ungkapan yang dinisbatkan kepada kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari:
العلم إن قارنته الخشية فلك، وإلا فعليك
Al-‘ilmu in qāranathul-khasyyatu falaka, wa illā fa‘alaika.
Artinya: “Ilmu itu akan menjadi keuntungan bagimu apabila disertai rasa takut kepada Allah. Jika tidak, ilmu itu justru menjadi beban bagimu.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan ketakwaan dan kesadaran spiritual. Bagi seorang santri, proses menuntut ilmu tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan peningkatan kualitas penghambaan kepada Allah SWT.
Santri sejati, menurut pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut, bukanlah seseorang yang merasa telah mencapai kesempurnaan dalam ibadah maupun kebaikan. Sebaliknya, santri adalah mereka yang terus memperbaiki diri, menjaga diri dari kemaksiatan, serta berusaha konsisten menapaki jalan ketaatan kepada Allah SWT.
Baca Juga:
Agenda berikutnya diisi dengan sambutan Ketua Panitia Hari Santri Nasional 2026 PCINU Tunisia, Ahmad Fajar Khan Mubarok. Dalam sambutannya, Fajar memaparkan sejumlah kegiatan yang telah dan akan diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri tahun ini.
Ia menjelaskan bahwa istigasah kubro yang dilaksanakan pada 22 Oktober 2026 merupakan salah satu agenda dari beberapa kegiatan yang telah dirancang oleh panitia. Selain kegiatan keagamaan tersebut, panitia juga menyelenggarakan lomba review buku yang berkolaborasi dengan Komunitas NU Book TN. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya budaya literasi sekaligus memperluas wawasan para santri.
Puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam agenda tersebut, akan diselenggarakan sesi diskusi yang berkaitan dengan tema besar yang diusung PCINU Tunisia, yakni peran strategis santri di tengah pergolakan geopolitik. Pada kesempatan yang sama, panitia juga akan mengumumkan para pemenang lomba review buku serta menghadirkan rangkaian kegiatan lainnya.
Melalui berbagai agenda tersebut, PCINU Tunisia berharap peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan kapasitas santri dalam menghadapi tantangan zaman. Santri diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, keluasan wawasan, dan kepedulian terhadap persoalan global dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini sekaligus menjadi momentum bagi keluarga besar Nahdatul Ulama di Tunisia untuk mempererat kebersamaan serta mempertegas kontribusi santri dalam menjawab tantangan sosial, politik, dan kemanusiaan. Dengan semangat keilmuan dan spiritualitas yang terus dijaga, santri diharapkan dapat mengambil peran nyata dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju serta berkontribusi bagi perdamaian dan kemaslahatan dunia.
Ingin tahu kegiatan dan info mengenai keilmuan menarik lainnya? Terus ikuti perkembangannya melalui website ini, juga akun media sosial kami ya! Bersama PCINU Tunisia kita “menjaga tradisi, menggerakkan peradaban”.





