Kegiatan

Ngaji Muqaddimah Gus Dubes: Membaca Realitas Zaman Melalui Perspektif Ibn Khaldun

PCINU Tunisia – Semangat intelektual kembali menyala di kalangan pelajar Indonesia di Tunisia. Pada Selasa, 14 April 2026, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar kajian mendalam kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun di sekretariat PCINU Tunis. Kajian ini terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, yang tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi juga sebagai narasumber utama yang menghidupkan kembali pemikiran klasik dalam konteks modern. Puluhan kader Nahdlatul Ulama serta ratusan mahasiswa Indonesia turut memadati ruangan, menciptakan suasana diskusi yang hangat, kritis, dan penuh antusiasme.

Dalam kajian tersebut, pembahasan difokuskan pada beberapa bab penting dalam Muqaddimah, khususnya yang membahas tentang konsep ṣanā’iʿ (profesi atau industri). Ibn Khaldun menjelaskan bahwa setiap profesi pada dasarnya adalah “malakah” atau kemampuan yang tertanam kuat melalui latihan dan pengalaman berulang. Hal ini menegaskan bahwa keahlian tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan praktik langsung. Bahkan, dalam teksnya ditegaskan bahwa pengalaman langsung jauh lebih kuat pengaruhnya dibanding sekadar pengetahuan teoritis. Inilah yang kemudian ditekankan oleh Gus Dubes bahwa dalam dunia nyata, “pengalaman sering kali lebih tajam daripada sekadar membaca buku.”

Lebih jauh, Ibn Khaldun membagi profesi menjadi dua kategori: yang bersifat sederhana (basīṭ) dan yang kompleks (murakkab). Profesi sederhana biasanya berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, sedangkan profesi kompleks muncul ketika peradaban telah berkembang dan menuntut adanya penyempurnaan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam penjelasannya, Gus Dubes mengaitkan konsep ini dengan realitas dunia modern, di mana perkembangan teknologi dan ekonomi global menciptakan profesi-profesi baru yang semakin kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa teori Ibn Khaldun bukan hanya relevan di masanya, tetapi juga mampu menjelaskan dinamika sosial-ekonomi saat ini.

Salah satu poin penting yang disoroti dalam kajian ini adalah bahwa keberhasilan dalam bisnis atau profesi tidak terjadi secara instan. Ibn Khaldun menegaskan bahwa perkembangan keahlian dan industri membutuhkan waktu, bahkan melibatkan generasi demi generasi. Peradaban yang maju akan melahirkan industri yang maju pula, sementara masyarakat yang masih sederhana hanya menghasilkan profesi dasar. Ini sejalan dengan realitas yang kita lihat hari ini, di mana negara-negara dengan peradaban maju memiliki sistem industri yang kompleks dan berkualitas tinggi. Dengan kata lain, kualitas suatu profesi sangat dipengaruhi oleh tingkat kemajuan peradaban masyarakatnya.

Gus Dubes juga menekankan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kebaikan secara moral, tetapi juga mendorong umatnya untuk membangun peradaban. Dalam konteks ini, aktivitas ekonomi, bisnis, dan pengembangan ilmu pengetahuan merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Ia mencontohkan bagaimana karya-karya besar dalam sejarah Islam lahir dari pusat-pusat peradaban yang maju, seperti munculnya kitab Al-Muwafaqat karya Imam Al-Syatibi di Andalusia. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan intelektual tidak bisa dilepaskan dari kemajuan sosial dan peradaban suatu masyarakat.

Menariknya, Ibn Khaldun juga menjelaskan bahwa perkembangan industri sangat bergantung pada kondisi kota atau peradaban (‘umran hadhari). Ketika suatu kota telah mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya, maka kelebihan sumber daya akan dialihkan untuk mengembangkan aspek-aspek kesempurnaan hidup, termasuk seni, ilmu, dan industri kreatif. Sebaliknya, masyarakat yang masih berada dalam tahap awal peradaban hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok. Analisis ini terasa sangat relevan ketika kita melihat perbedaan antara negara berkembang dan negara maju saat ini.

Selain itu, dalam pembahasannya, Ibn Khaldun menyoroti bahwa keahlian dan tradisi industri akan semakin kuat jika berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi akan membentuk karakter dan identitas suatu masyarakat. Bahkan ketika sebuah peradaban mengalami kemunduran, jejak keahlian tersebut masih dapat ditemukan. Hal ini terlihat dalam berbagai kota bersejarah di dunia Islam yang meskipun tidak lagi berada pada puncak kejayaan, namun masih menyimpan warisan budaya dan keahlian yang khas.

Dalam penutup kajian, Gus Dubes memberikan pesan yang mendalam kepada para kader NU dan mahasiswa Indonesia di Tunisia. Ia mengajak mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh serta tidak hanya menjadi penonton dalam sejarah. “Sejarah itu kita yang membuat, bukan menunggu orang lain,” pesannya dengan penuh penekanan. Kalimat ini menjadi refleksi penting bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam membentuk masa depan peradaban.

Kajian ini bukan sekadar pembacaan teks klasik, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali warisan intelektual Islam dalam menghadapi tantangan zaman modern. Muqaddimah yang ditulis oleh Ibn Khaldun pada tahun 1375–1377 terbukti tetap relevan hingga hari ini. Melalui pendekatan kontekstual yang disampaikan oleh Gus Dubes, para peserta diajak untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca realitas dan mengambil peran aktif dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Penulis : Muhammad Dakhlan Gazali, Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah Tunisia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button