Kajian

Ngaji Muqaddimah Gus Dubes: Teori Berdagang dan Nilai Kemanusiaan

PCINU Tunisia – Pada bab kelima belas, dibahas tentang teori berdagang yang tergolong sebagai ilmu sederhana, dengan judul: “في أن خلق التجارة نازل عن خلق الرؤساء بعيد من المروءة”. Dalam bab ini dijelaskan bahwa teori utama dalam berdagang mencakup tiga hal pokok: memiliki modal, adanya keuntungan dalam bisnis, serta keseimbangan antara pengeluaran (modal) dan pemasukan (keuntungan), yang dalam dunia ekonomi dikenal sebagai pendapatan.

Di sela-sela pengajian kitab, Gus Dubes menyampaikan bahwa prinsip-prinsip ini kerap beliau ulang saat mengkaji pemikiran Ibnu Khaldun: “Cara agar kita sukses secara sederhana ialah dengan melihat dan belajar dari orang-orang sukses.”

Memasuki pembahasan bab ini, seseorang semestinya mulai mampu menyaring kembali akhlak para pengusaha, khususnya terkait orientasi pada keuntungan. Jika dikaitkan dengan aspek kemanusiaan, sering kali para pelaku bisnis hanya berfokus pada untung dan rugi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, jika hidup hanya bergantung pada logika untung-rugi semata, maka perlahan akan hilang rasa kemanusiaan itu sendiri. Sementara hakikat kehidupan sejati adalah berbagi kepada sesama.

Pelajaran ini dapat diambil dari sosok Sidi Bou Said, salah satu tokoh masyhur di Tunisia yang namanya kini diabadikan menjadi nama sebuah kawasan. Beliau dikenal sebagai pebisnis yang sangat kaya, namun kekayaannya tidak menjadikannya tamak. Sebaliknya, ia justru gemar berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Baca Juga :

Ngaji Muqaddimah Gus Dubes : Masjid Adalah Simbol dan Kekuatan Islam

Hal ini sangat relevan dengan ungkapan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya: “Kalau memberi, jangan pernah berpikir ruginya. Dalam politik, kalau memberi jangan berharap imbalan. Akhlak pedagang yang selalu menghitung untung-rugi tidak sepenuhnya patut diikuti, dan terkadang kekayaan justru harus dibagikan kepada yang membutuhkan.”

Gus Dubes juga kembali menekankan bahwa nilai-nilai ini sejatinya telah diajarkan oleh para guru yang saleh, yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan orang tua kita, yang melalui nasihat dan keteladanan telah mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Segala sesuatu yang selalu dihitung berdasarkan untung dan rugi bukanlah cerminan akhlak yang baik. Ketika kita menebarkan kebaikan tanpa pamrih, tanpa berharap balasan, dan membiasakan diri untuk memberi dengan ikhlas, di situlah nilai kemanusiaan akan tumbuh secara perlahan. Sikap dermawan, meskipun sederhana, memiliki dampak besar dalam membentuk empati. Dari empati itulah lahir kepekaan untuk tidak menyakiti orang lain, serta dorongan untuk membantu sesama dengan ketulusan. Nilai-nilai ini pula yang kelak menjadi fondasi lahirnya pemimpin berintegritas di masa depan.

Baca Juga :

Catatan Ngaji Muqaddimah Gus Dubes : Tradisi Ramalan Masa Depan Menurut Ibnu Khaldun

Gus Dubes juga mengingatkan bahwa pedagang yang mengejar keuntungan dengan menghalalkan segala cara akan kehilangan nilai kemanusiaannya. Dalam hal ini, kita dapat meneladani akhlak Nabi Muhammad dalam berdagang: beliau memperhatikan daya beli masyarakat, tetap memperoleh keuntungan, namun dengan kecerdasan dan kejujuran.

Di akhir pengajian, beliau menyampaikan pesan mendalam: “Hidup itu ada suka dan duka, tetapi ada kunci untuk menjalaninya. Ketika berada di atas, kita harus mampu mendefinisikan sendiri apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya.” Beliau juga menyinggung bagaimana masyarakat Iran dikenal cerdas karena mempelajari filsafat kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa ilmu filsafat memiliki peran penting dalam kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengutip pelajaran hidup: “Ketika kita tidak mau bertaruh, maka kita akan terus kalah. Kita harus berlayar dan berlabuh agar sampai tujuan.” Berlabuh di sini dimaknai sebagai perjuangan. Artinya, untuk meraih cita-cita, seseorang harus berani berusaha dan mengambil risiko.

Sebagai penutup, Gus Dubes menyampaikan satu prinsip penting, “Jika ada orang yang memiliki posisi, jangan dimusuhi. Ambil hatinya agar kita bisa memberi masukan dan menasihati. Karena penasihatlah yang sering menentukan arah kebijakan, sebab ucapannya lebih didengar oleh penguasa.”

Penulis : Hasna May Ziyadah, Mahasiswi Universitas Az-Zaitunah Tunisia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button