Kajian

Ngaji Muqaddimah Gus Dubes : Belajar Berbisnis ala Ibnu Khaldun

PCINU Tunisia – Dalam peradaban dunia, Ibnu Kholdun telah menyumbangkan sebuah gagasan yang telah diakui seluruh dunia dalam membangun sebuah peradaban. “Visi Ibnu Khaldun dalam menyikapi peradaban yang relevan di zaman sekarang ialah dengan membangun sesuatu.” Kalimat ini telah disampaikan berkali-kali oleh Gus Dubes dalam mengkaji kitab Muqaddimah. Sejak abad ke-14, teorinya masih relevan, bahkan menjadi rujukan bagi umat dalam menata peradaban dunia dan eksistensi alam.

Salah satu pemikiran Bapak Sosiologi Islam, yakni Ibnu Khaldun, nyatanya masih sangat relevan, tentang bagaimana para agamawan rela mengorbankan waktunya untuk tidak mencari uang, melainkan ilmu adalah prioritasnya. Dalam artian yang lain, bahwa seorang agamawan tidak akan bisa jika hanya menagandalkan pendapatan dari mengajar agama agar menjadi kaya dan harus bersiap menerima kenyataan (miskin). Hal ini disampaikan langsung oleh beliau di dalam kitab Muqoddimah-nya, bahwa jikalau ada orang ingin mejadi kaya, maka bekerjalah. Dan suatu pekerjaan diupah tergantung porsinya masing-masing.

Teori ini sudah dibuktikan oleh realitanya pada zaman sekarang, bahwasanya orang-orang cenderung untuk belajar yang bersistem sekunder dengan imbalan ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih pasti dan meyakinkan di zaman sekarang, sehingga hal ini menimbulkan eksistensi ataupun keinginan ingin menjadi pengemuka agama yang murni semakin menurun peminatnya, lebih-lebih di dunia modern seperti sekarang.

Hal tersebut merupakan sebuah kritikan yang dilontarkan oleh Ibnu Kholdun kepada orang-orang yang sedang belajar agama, “jangan sesekali untuk bercita-cita menjadi orang kaya jika hanya mengandalkan pendapatan dari mengajar ilmu agama, karena secara rasional itu tidak mungkin” kalimat ini telah disampaikan oleh Gus Dubes di dalam kajiannya, untuk mengingatkan kepada kita para santri bahwa arti sebenarnya sebuah agama adalah kesederhanaan. Ia memberikan contoh tokoh figur agamawan yang berasal dari Spanyol, Paus Francicus. Dia adalah seorang agamawan yang berasal dari keluarga orang kaya, namun dia memilih untuk tinggal di rumah sederhana, bahkan jam tangannya bernilai cukup murah dan dia tidak malu memakainya. Di negara Indonesia, kita mempunyai banyak tokoh agamawan, seperti contoh Syaikhona Kholil Bangkalan dengan hidupnya yang selalu ada untuk umat, beliau yang telah memberikan aspirasi kepada khalayak masyarakat Indonesia, “bahwa agama mengajarkan arti kesederhanaan, menjadi simbol dalam keteladanan seperti satu lilin yang menerangi ruangan gelap. ” Ucap Gus Dubes.

Di peradaban Tunisia, ternyata agama bukan hanya mengajarkan kepada kita tentang teori keagamaan atau katakanlah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita menjadi pribadi yang baik, namun agama juga salah satu penyumbang dan ikut andil dalam membangun peradaban. Di Masjid Uqbah bin Nafi’ yang bertempat pada Kota Kairoan, Tunisia. Konon dulu orang-orang belajar di masjid tersebut, bukan hanya belajar agama, tetapi juga multidisipliner ilmu pengetahuan, seperti halnya matematika, kedokteran, dan ilmu yang menunjang dalam memperbaiki peradaban, mereka mempelajarinya.

Di sisi lain, agama mengajarkan kita untuk bersikap I’tidal atau moderat. Dalam artian lain, seharusnya seorang agamawan memilih hidup yang cukup. “Bermanfaat bagi orang lain dan bersikap sederhana, dua nilai inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang agamawan.” Ucap Gus Mis.

Ibnu Khaldun mengatakan, bahwa selain kebanyakan seorang agamawan yang susah mencari penghasilan yang banyak, Petani, dianggap sebagai mata pencaharian masyarakat yang paling rendah. Dahulu orang-orang harus bertani dan menanam sesuatu agar mereka bisa hidup. Didukung oleh sabda Nabi Muhammad, bahwasanya orang yang bertanam adalah orang miskin.
Dua tipe inilah yakni seorang agamawan dan petani yang disebutkan oleh Ibnu Kholdun, mereka berkontribusi kepada peradaban dengan caranya sendiri, tentunya hal ini ada konsekuensinya yang telah disebutkan sebelumnya yaitu tidak akan mendapatkan pendapat yang lebih. Kemudian, Ibnu Kholdun meneruskan pembahasannya bahwa ada orang yang bisa berkontribusi bagi peradaban, yaitu Pedagang atau Pembisnis. Gus Mis memberikan arti yang ringkas untuk kata pedagang, bahwasanya ilmu pebisnis yang dimaksudkan Ibnu Kholdun disini adalah bagaimana modal sedikit , tapi untung besar, karena hal ini juga dianggap sebagai metode yang sangat sesuai jika ingin memajukan sebuah bisnis

Oleh karena itu, pedagang harus cari peluang untuk membeli barang dengan modal kecil tetapi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tentunya modal tidak hanya disiapkan melainkan harus dikembangkan agar seseorang tertarik untuk membeli barang tersebut. Gus Dubes selalu memberikan contoh bahwasanya orang yang paling pintar dalam berdagang ataupun berbisnis adalah orang Cina. Hal ini telah terbukti bahwasanya Cina memiliki peradaban yang besar, dan insfrastruktur yang megah, dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya, mereka memiliki DNA pembisnis dari sejak kecil lamanya, sehingga Gus Dubes menyaksikan langsung dan tidak ragu untuk menyebut bahwa orang Cina memang sangat pintar berbisnis.

Salah satu penggalan kalimat yang berkaitan dengan perbisnisan dalam kitab Muqoddimah adalah إشتراء الرخيص وبيع الغالي membeli dengan harga murah (modal) dan menjual dengan harga yang tinggi. Terdengar seperti kata-kata biasa, tapi inilah salah satu prinsip yang dipromosikan Ibnu Kholdun kepada para pembisnis untuk membangun dan ikut menyumbang di peradaban dunia.

Bahkan salah satu cerita yang diceritakan Gus Dubes ketika bertemu seorang kyai bernama Buya Syakur, beliau berkata “Kita ini kekurangan pengusaha dalam lingkup santri, Gus.” Ucapan beliau ingin sekali ada salah satu ulama dari kalangan Indonesia sekaligus sebagai bentuk harap kepada Gus Dubes untuk membuat pondok yang nantinya menjadi kader-kader pengusaha yang sukses dan membangun peradaban Indonesia

“Jangan berhenti pada satu tempat, jangan terlalu puas, ilmu itu luas” kalimat terakhir yang diucapkan Gus Dubes ketika hendak menyelesaikan kajiannya. Ia berharap teori Ibnu Kholdun bisa mencurahkan masa depan Indonesia, dan membangun peradaban emas-nya yang sudah kita nanti-nanti kan sedari lama.

Penulis : Fardan Abid, Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button