PCINU Tunisia – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia kembali unjuk kompetensinya dengan menggelar peringatan Harlah 1 Abad NU di Sekretariat PCINU Tunisia, Selasa (03/02/2026). Sebanyak 150 warga Nahdliyyin menghadiri acara ini. Acara ini dimeriahkan dengan Istighosah Kubro, sholawat dari Grup Hadrah el-Khadra, soft launching Jurnal Khittah Volume ke-3, launching komunitas baca PCINU Tunisia, penampilan puisi dan syair Arab, hingga pengajian Qonun Asasi sebagai inti acara.
Qanun Asasi NU merupakan dasar filosofis yang dirumuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU, yang memuat prinsip ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) sebagai jembatan untuk merealisasikan maksud dan tujuan NU, serta pedoman warga Nahdliyin dalam berbangsa dan beragama.
Pengajian ini ditujukan sebagai penguatan kaderisasi NU, sekaligus pembekalan nilai-nilai ke-NU-an dan kebangsaan bagi warga Nahdliyin.
Ketua Tanfidziyah PCINU Tunisia, M. Yusril Muna MA. menegaskan pentingnya memahami Qanun Asasi, terlebih lagi karena nilainya yang selalu relevan dengan zaman. “Qanun Asasi ini merupakan kitab yang perlu kita pahami dan resapi bersama. Meskipun sudah berumur panjang, tetapi relevansinya tetap kokoh sampai saat ini,” ujarnya.
Pengajian Qanun Asasi ini berlangsung dengan dipandu oleh Ust. Ardi Pramana Lc., MA. Ia menjelaskan bahwa Qonun Asasi terbagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, dalil dan pedoman yang menjadi ciri khas NU, yaitu mengajak dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Ia menekankan pentingnya metode dakwah yang santun. “Ketika harus berjadal pun gunakan tutur kata selembut mungkin dengan hikmah, tidak perlu menang-menangan tapi harus bersih karena tujuannya suci, yaitu dakwah,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan tantangan yang sering dihadapi. “Nah ini tantangan, seringnya kita memiliki niat baik tapi caranya kurang baik. Seakan-akan Hadratussyekh mengatakan kepada orang-orang NU: wahai orang-orang NU, belajarlah menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan dengan hikmah,” jelasnya.
Kedua, urgensi berorganisasi, mengapa NU harus menjadi organisasi, diperkuat dengan dalil-dalil hadist.
“Ketiga, beliau menekankan sekali pentingnya sanad, karena agama kita itu terjaga sampai saat ini karena sanad,” ungkapnya.
Ust. Ardi memberikan perbandingan untuk menegaskan pentingnya sanad. “Coba saja lihat agama Kristen, apakah Injil yang mereka bawa sekarang adalah Injil yang dulu? Ada tambahan dan pengurangan. Sedangkan Al-Qur’an kita beda, karena dijaga oleh sanad. Ketika ada penyelewengan langsung ketahuan karena semua diambil talaqqi min ash-shudur ila ash-shudur dan dicatat oleh sanad, itulah agama Islam,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa NU sangat menjaga tradisi sanad ini. “Hadratussyekh menekankan pentingnya sanad, maka tidak sembarangan mencari ilmu. Ilmu NU itu jelas,” tegasnya.
Dalam penjelasannya, Ust. Ardi merinci bahwa Islam mencakup tiga pilar: Iman, Islam, dan Ihsan, yang semuanya tercermin dalam tradisi NU. “Islam itu ada Iman, Islam, Ihsan, dan NU itu mencerminkan semuanya. Iman atau akidahnya ada Abu Hasan al-Asy’ari atau Abu Manshur al-Maturidi. Lalu Islam atau fikih, fikihnya NU ada empat madzhab. Dan Ihsan itu tasawuf, yang ditandai dengan Imam al-Ghazali, Abu Hamid al-Ghazali, dan Imam Junaid al-Baghdadi sebagai rujukan dalam tradisi tasawuf NU,” jelasnya.
Acara ini menandakan perhatian PCINU Tunisia dalam menumbuhkan serta memperkuat karakter religius dan organisatoris warga nahdliyin di tengah arus modernisasi yang semakin pesat.
Acara yang dinahkodai oleh anggota Lesbumi PCINU Tunisia, M. David Ibrahim ini berjalan sukses dan meriah dengan sesi makan bersama sebagai penutup acara.
Penulis: Arifatun Nasichah (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)



