Ifriqiyya sebagai Kiblat Ilmu Pengetahuan Dunia

PCINU Tunisia – Ifriqiyya merupakan sebuah negara yang makmur di dunia, karena setiap Dinasti yang ingin menguasai dan membangun peradaban di wilayah tersebut. Ifriqiyya terletak di daerah yang berbatasan dengan benua Eropa dan Asia. Letak geografisnya, di sebelah utara berbatasan dengan laut Mediterania, di selatan berbatasan dengan gurun sahara yang ada di benua Afrika, di timur berbatasan dengan Libya, dan di barat berbatsan dengan Aljazair. Ifriqiyya modern yang sekarang menjadi sebuah negara, dengan sebutan Tunisia. Lalu, mengapa Ifriqiyya sangat populer dalam keilmuan bagi dunia?
Ifriqiyya berhasil ditaklukan pada tahun 27 H melalui perang ‘Abadilah Al-Sab’ah. Perang ini dikarenakan terlibat dari 7 nama Abdullah seperti, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr bin Ash, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Ja’far. Maka pada tahun tersebut, Ifriqiyya berhasil di taklukan. Kemudian di lanjutkan oleh Mu’awiyah bin Hudaij pada tahun 45 H dan diteruskan oleh Uqbah bin Nafi pada tahun 50 H. setelah penaklukan yang di lakukan oleh Uqbah bin Nafi, ia membangun masjid yang dinamai Uqbah bin Nafi yang bertepatan di kota Kairouan, dan menjadi ibukota pemerintahan di Ifriqiyya.
Kemudian pada tahun 79 H, Ifriqiyya berhasil di taklukan oleh Hassan bin Nu’man dengan menaklukan kota Chartage yang berada di Timur laut negara Tunisia. Setelah penaklukan ini, Hassan membangun masjid yang ada diwilayah kota Tunis, yaitu Masjid Zaitunah. Dari Pembangunan 2 masjid ini akan menjadi ikon sejarah di dunia dan melahirkan ulama-ulama yang cerdas, bijaksana, dan berkompeten.
Ifriqiyya Kiblat Ilmu Pengetahuan
Prioritas utama dalam sistem pemerintahan yang terdapat di Ifriqiyya adalah perhatiannya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan sumber daya masyarakat. Pada abad ke 7 H, ilmu pengetahuan mulai menjadi sebuah keharusan sebagai cerminan kemajuan peradaban Islam. Keilmuan juga merupakan aset emas dalam membangun peradaban.
Dan dari keilmuan inilah orang-orang akan lahir dengan kebijaksanaan dan ketekunan. Di Ifriqiyya khususnya di ibukota Kairouan di masa pemerintahan Dinasti Aghlabiyah, pada saat itu memainkan peran penting sebagai kiblat ilmu pengetahuan di masanya. Maka dari sinilah lahirnya ulama dan cendikiawan seperti imam Ali bin ziyad yang menyebarkan mazhab maliki di Ifriqiyya, Asad bin Furat, serta Imam Sahnun yang menuliskan kitab al-Mudawwanah fi Fiqh al-Maliki. Sehingga di sinilah awal mula Ifriqiyya sebagai kiblat ilmu pengetahuan.
Dalam suatu wilayah negara atau kerajaan memiliki posisi strategis dalam wilayah kekuasaannya, sehingga posisi strategis inilah yang menjadi jembatan ilmu pengetahuan baik melalui pertukaran budaya dan bahasa. Wilayah Ifriqiyya juga pada saat itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang bertransisi menjadi kiblat ilmu pengetahuan yang dimajukan pada masa Dinasti Fathimiyah hingga penjajahan Prancis di Tunisia.
Pada abad ke 2 H/ 8 M seperti munculnya ulama fiqih, Bahasa, ilmu perbintangan, dan lain sebagainya. Kemudian pada abad ke 12-19 M muncul ulama–ulama yang berada di wilayah Ifriqiyya seperti, Ibnu Khaldun dengan kitab Muqaddimah, Thahir Haddad dengan kitab Imraatuna fi Al Syari’ati wal Mujtama’, Syekh Muhammad Thahir bin Asyur dengan kitab Ushul Nizhom, Alaitsa Subhu bi Qarib, Maqasid Syari’ah, dan Tafsir Tahrir wa Tanwir. Kemudian pada abad 20 Masehi muncul cendikiawan terkenal yang berada di Ifriqiyya yaitu, Hichem Djait dengan karya kitab–kitab sejarah yang menganalisis terkait peninggalan-peninggalan Sejarah Islam yang kemudian di jadikan sebagai rujukan bacaan bagi para pecinta Sejarah. Sehingga keilmuan masih terjaga hingga saat ini dan menjadi ambisi tetap bagi para pelajar muda untuk menjadi ilmuan dan cendikiawan di berbagai bidang keilmuan.
Dari sini kita mengetahui, bahwa ilmu pengetahuan merupakan aset berharga bagi kemajuan umat, bangsa dan negara, serta menjadi garda terdepan untuk melindungi dari fitnah-fitnah yang tidak terduga dari orang-orang yang rugi yang mencoba merusak ilmu pengetahuan dan peradaban manusia dan agama. Juga menjadi kiblat ilmu pengetahuan melalui penguatan sistem pembelajaran yang terstruktur serta membangun peradaban yang berkemajuan dan berkompeten.
Penulis : Muhammad Rasyid Lubis (Mahasiswa Diaspora NU di Tunisia)





