Berita

Membanggakan! Muhamad Ismail, Kader PCINU Tunisia Raih Predikat Summa Cum Laude Pada Sidang Doktoral di Universitas Zaitunnah Tunisia

Penulis: Muttaqin Hidayahtullah (Mahasiswa Geopolitik dan Hubungan Internasional Universite de la Manouba, Tunis)

PCINU Tunisia — PCINU Tunisia kembali menorehkan prestasi, Muhamad Ismail, Lc., MA, kader Nahdlatul Ulama (NU) di Tunisia, telah melaksanakan sidang doktoral di Universitas Zaitunah, dan meraih predikat pujian tertinggi. Pada disertasinya Muhamad Ismail mengangkat penelitian mengenai pengaruh tarekat sufi terhadap perkembangan sosial dan politik di Indonesia. Ia secara khusus menyoroti Tarekat Qodiriyah sebagai objek kajian.

Disertasi tersebut berjudul “أثر الطرق الصوفية في التطور الإجتماعي والسياسي في إندونيسيا: الطريقة القادرية أنموذجا”, yang berarti “Pengaruh Tarekat Sufi terhadap Perkembangan Sosial dan Politik di Indonesia: Tarekat Qodiriyah sebagai Model Kajian.”

Pemilihan tema ini menghadirkan perspektif menarik dalam studi Islam. Tasawuf tidak hanya dipahami sebagai jalan spiritual yang menekankan penyucian jiwa dan kedekatan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga sebagai tradisi keagamaan yang memiliki hubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Melalui kajian terhadap Tarekat Qodiriyah, penelitian ini berupaya menelaah bagaimana tradisi spiritual memiliki andil dengan perubahan sosial dan dinamika politik di Indonesia.

Sebagai salah satu tradisi tarekat dalam khazanah tasawuf Islam, Tarekat Qodiriyah memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kehidupan keagamaan umat Islam. Keberadaan tarekat tidak hanya berkaitan dengan praktik spiritual dan pembinaan akhlak, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pembentukan komunitas, pewarisan nilai-nilai keagamaan, serta interaksi antarkelompok dalam masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, hubungan antara agama, masyarakat, dan politik merupakan tema penting untuk terus dikaji. Tradisi keislaman tumbuh dan berkembang dalam keragaman kondisi sosial, budaya, serta sejarah lokal. Karena itu, penelitian mengenai tarekat sufi ini membuka peluang untuk memahami lebih jauh bagaimana ajaran dan praktik spiritual berinteraksi dengan realitas kehidupan masyarakat.

Melalui fokus pada Tarekat Qodiriyah, disertasi Muhamad Ismail menempatkan tradisi tasawuf sebagai salah satu perspektif untuk membaca dinamika sosial-politik Indonesia. Kajian ini sekaligus mempertemukan studi keislaman dengan kajian sosial dan politik, sehingga pembahasan mengenai tasawuf tidak berhenti pada dimensi spiritual, tetapi turut membuka ruang analisis terhadap peran tradisi keagamaan dalam kehidupan publik.

Baca Juga:

Sidang doktoral tersebut melibatkan sejumlah akademisi yang tergabung dalam lajnah munaqasyah atau komite sidang. Susunan komite sidang terdiri atas Prof. Dr. Abdel Qader Naffati (Pembimbing), Prof. Dr. Iqbal Ghorbi (Ketua sidang), Prof. Dr. Romadhon Barhumi (Penguji Eksternal), serta Prof. Dr. Sarah Al-Juwaini dan Prof. Dr. Syukri Beji (Penguji)

Kehadiran para akademisi tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi ilmiah terhadap penelitian yang diajukan. Sidang doktoral merupakan tahapan penting dalam perjalanan akademik seorang peneliti, ketika argumentasi, metodologi, serta kontribusi keilmuan dari sebuah disertasi dibahas dan diuji secara akademis.

Bagi Muhamad Ismail, penelitian ini menghadirkan ruang untuk mengkaji warisan intelektual Islam melalui pengalaman sejarah dan konteks sosial Indonesia, dengan menjadikan Universitas Zaitunah sebagai lingkungan akademik tempat penelitian tersebut dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan.

Penelitian mengenai tarekat sufi memiliki relevansi tersendiri bagi pengembangan studi Islam kontemporer. Di tengah perubahan sosial dan politik yang terus berlangsung, pemahaman terhadap tradisi keagamaan dapat membantu menjelaskan bagaimana nilai, otoritas keagamaan, dan komunitas spiritual berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas.

di Indonesia sendiri kajian semacam ini juga membuka kesempatan untuk membaca sejarah perkembangan Islam secara lebih mendalam. Islam di Indonesia tumbuh melalui proses sejarah yang panjang, melibatkan ulama, lembaga pendidikan, jaringan keilmuan, serta berbagai tradisi keagamaan yang turut membentuk corak kehidupan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, kajian terhadap Tarekat Qodiriyah dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pemahaman mengenai hubungan antara spiritualitas Islam dan perubahan sosial-politik. Sejauh mana pengaruh tersebut berlangsung tentu perlu dijelaskan melalui temuan, sumber sejarah, dan analisis yang dikembangkan dalam penelitian.

Pelaksanaan sidang doktoral Muhamad Ismail menjadi bagian dari perjalanan intelektual seorang kader NU di Tunisia yang mengangkat Indonesia sebagai fokus kajian akademiknya. Penelitian ini memperlihatkan pentingnya mengembangkan studi Islam yang tidak hanya menelaah ajaran dan tradisi keagamaan, tetapi juga mengkaji keterkaitannya dengan konteks sejarah serta kehidupan masyarakat.

Lebih dari sekadar penelitian tentang sebuah tarekat, kajian ini berpotensi memperkaya diskusi mengenai posisi tasawuf dalam sejarah Islam Indonesia. Dengan pendekatan akademik yang mendalam, penelitian tentang Tarekat Qodiriyah dapat menjadi rujukan bagi kajian lanjutan mengenai sejarah tarekat, relasi agama dan masyarakat, serta perkembangan sosial-politik di Indonesia.

“Semoga proses akademik yang dijalani Muhamad Ismail membawa manfaat bagi pengembangan studi Islam, memperluas khazanah penelitian tentang tasawuf di Indonesia, serta memberikan kontribusi bagi hubungan keilmuan antara Indonesia dan Tunisia”. Harap Muhammad Yusril Muna (Ketua PCINU Tunisia)

Ingin tahu kegiatan dan info mengenai keilmuan menarik lainnya? Terus ikuti perkembangannya melalui website ini, juga akun media sosial kami ya! Bersama PCINU Tunisia kita “menjaga tradisi, menggerakkan peradaban”.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button