Hari Santri Nasional: Eksistensi Santri dan Penemuan Jati Diri
Penulis: Destiya Rizninda (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitounah, Tunisia)
PCINU Tunisia – Tanggal 22 Oktober, yang secara rutin diperingati sebagai Hari Santri Nasional, tidak dapat terlepas dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Ketika kita menilik kembali pada tanggal 22 Oktober 1945, yakni waktu di mana KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama, mendeklarasikan “Resolusi Jihad”, sebuah fatwa yang berorientasi untuk mengobarkan semangat juang yang membara di kalangan kyai dan santri untuk melawan kolonial yang akan kembali menjajah Indonesia pasca kemerdekaan dua bulan lalu. Maka para kiai dan santri mempunyai peran besar dalam merenggut kembali kemerdekaan negara Republik Indonesia. Puncaknya terjadi pada 10 November 1945. Hingga kini pun masih diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Maka, peringatan Hari Santri Nasional, yang telah diperingati sejak awal mula ditetapkannya, merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad. Resolusi Jihad bertujuan untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan para kiai dan santri dalam merenggut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Maka hari ini, kita berjuang bukan lagi tentang perjuangan fisik melawan penjajah, melainkan perjuangan intelektual dan sosial dalam mengisi kemerdekaan, dengan melahirkan generasi-generasi emas di masa depan.
Kata santri, biasanya identik dengan seseorang atau golongan yang belajar dan mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Namun, lebih dari itu, santri ialah seseorang atau golongan yang sedang berjalan menuju hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Santri tidak hanya belajar secara teori, melainkan juga praktik ilmu agama dan ilmu kehidupan yang langsung mendapat bimbingan 24 jam dari sang kiai. Sehingga santri dikenal sebagai orang yang memiliki karakter kesederhanaan, kearifan, kemandirian, dan kemanfaatan di masyarakat.
Di era modern ini, para santri tidak hanya belajar agama di pondok pesantren, melainkan seiring berjalannya waktu, kini para santri sudah berani mengambil langkah pada jenjang yang lebih tinggi, yakni melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri. Hingga hari ini, ribuan santri telah tersebar di berbagai penjuru dunia, khususnya di negeri Ifriqiya, khususnya di negara Tunisia el Khadra.
Negara Tunisia menjadi negara yang banyak diminati oleh para santri, tentunya demi memperoleh ilmu yang lebih tinggi di negara tersebut, salah satu jalan yang ditempuh yakni dengan berkuliah di berbagai kampus yang sudah tersebar di Tunisia. Banyak dari mereka yang mengambil jurusan keagamaan maupun umum.
Meski jauh dari Nusantara dan tidak lagi belajar di pesantren. Namun, jiwa seorang santri itu harus tetap melekat di dalam hati. Hingga pada tanggal 22 Oktober kali ini pun, turut diadakan perayaan Hari Santri Nasional. Kemudian, pada akhirnya, pada hari Kamis kemarin, para santri yang sedang menempuh pendidikan di Tunisia berkumpul untuk turut serta dalam merayakan dan memeriahkan serangkaian acara Hari Santri Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia.
Berhubung tema besar Hari Santri Nasional yang telah resmi ditentukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tahun ini adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, maka tercetuslah tema besar Hari Santri tahun ini yang dilaksanakan oleh PCINU Tunisia, yakni “Peran Strategis Santri di Era Pergolakan Geopolitik”. Tema ini diambil karena masih relevan dengan dinamika pergolakan isu-isu sosial, politik, maupun kemanusiaan yang terjadi, baik itu dalam kancah negeri maupun di luar negeri.
Agenda pertama dimulai dengan pembacaan Surah Yasin dan Hizib Bahr yang dipimpin langsung oleh Syekh Sholahuddin al-Mistawi selaku Mustasyar PCINU Tunisia, kemudian dilanjutkan pada acara berikutnya, yakni pembukaan oleh MC (Master of Ceremony), yang dibawakan oleh Mutiah Ma’rufah. MC menyampaikan secara singkat mengenai serangkaian acara yang akan diselenggarakan pada malam hari ini. Kemudian, dilanjutkan dengan acara selanjutnya, yakni sambutan-sambutan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Muhammad Yusril Muna, M.A selaku ketua Tanfidziah PCINU Tunisia, ia menyampaikan terimakasih sekaligus mengungkapkan rasa bangga kepada seluruh panitia penyelenggara kegiatan peringatan hari santri nasional tahun 2026, juga kepada seluruh peserta yang turut hadir dalam rangka memeriahkan acara tersebut.
Ia juga menyampaikan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, yakni pembacaan istighatsah dengan tujuan meminta pertolongan dan keselamatan atas bencana yang terjadi di Tanah Air Indonesia. PCINU Tunisia juga akan menyelenggarakan diskusi ilmiah pada tanggal 29 Oktober 2026 yang akan mengundang para delegasi dari tiga organisasi besar yang ada di Tunisia, di antaranya ialah PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Tunisia, PCIM (Persatuan Cabang Indonesia Muhammadiyah) di Tunisia, dan PCINU (Persatuan Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama) di Tunisia. Ketiga organisasi masyarakat dan pelajar terbesar di Tunisia ini serempak akan menyelenggarakan kompetisi ulasan buku internasional yang diikuti oleh berbagai kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Dan hari ini peserta yang telah terdaftar telah mencapai 500.
Sambutan kedua dibawakan oleh Ustadz Ardhi Pramana, Lc., M.A. Ustadz Ardhi menjelaskan apa itu makna dan hakikat menjadi seorang santri. Menurutnya, setiap orang bisa menafsirkan kata santri sesuai perspektifnya masing-masing. Namun santri dapat diartikan sebagai seseorang atau golongan yang sedang berjalan menuju hakikat kebenaran sesungguhnya. Bisa juga disebut dengan murid Allah (Muridullah), maka dapat dikatakan bahwa tidak mungkin ada yang melabeli dirinya sebagai santri apabila dia tidak salik, yakni berusaha menuju jalan Allah SWT. Dan inilah tujuan hidup yang sesungguhnya.
Jalan menuju Allah itu ada banyak indikatornya, diantaranya ialah dengan mendekatkan diri kepada rasulullah. Dapat disebutkan bahwasannya Rasulullah itu adalah pintu utama jalan menuju Allah SWT.
Baca Juga:
Kata santri juga dapat diartikan dari bahasa Inggris, yaitu “sun three”, yang artinya “matahari tiga”, maka dapat ditafsirkan bahwasanya santri harus memiliki pemahaman atas tiga asas yang akan memancarkan jiwa kesantriannya, yakni Islam, iman, ihsan. Maka ilmu yang dipelajari oleh para santri identik dengan ilmu akhirat, ilmu yang akan menghantarkan pada kedekatan terhadap Yang Maha Kuasa. Selaras dengan kebiasaan santri yang selalu beraktivitas untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, di antaranya pembacaan istighatsah bertujuan untuk meminta perlindungan dan keselamatan di dunia, juga pembacaan Hizib Bahr, yaitu kumpulan dzikir untuk mengingat Allah.
Semua ini adalah serangkaian yang telah dilaksanakan oleh PCINU Tunisia dalam memperingati Hari Santri Nasional 2026 di tanah rantau ini. Agenda berikutnya disusul dengan sambutan dari ketua panitia dalam acara Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh PCINU Tunisia, yakni Ahmad Fajar Khan Mubarok. Fajar memaparkan serangkaian agenda yang akan terlaksana dalam rangka memperingati Hari Santri ini. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa acara istighosah kubro ini adalah satu dari serangkaian acara lainnya, tentunya dalam rangka untuk memeriahkan Hari Santri 2026.
Maka, dengan adanya peringatan Hari Santri Nasional ini, perlu dijadikan momentum untuk memperkuat eksistensi jati diri santri. Meskipun telah mengembara jauh hingga ke ujung dunia pun, santri masih menjadi seorang santri yang akan memikul amanah tersebut hingga akhir hayatnya, Maka dari itu ada sebuah kutipan yang berbunyi “ alumni santri yang telah lulus dari pondok pesantren, akan terus mendapatkan gelar santri, meskipun notabene nya ia bukan lagi bermukim di pondok pesantren, namun sekali menjadi santri, akan menjadi santri selamanya, dan tidak ada yang namanya mantan santri, sekalinya jadi santri akan terus menjadi santri dimanapun waktu dan tempatnya.”
Ingin tahu kegiatan dan info mengenai keilmuan menarik lainnya? Terus ikuti perkembangannya melalui website ini, juga akun media sosial kami ya! Bersama PCINU Tunisia kita “menjaga tradisi, menggerakkan peradaban”.





